Monday, December 5, 2011

Raja Damai ( Sharing Persekutuan doa, Selasa 3 Desember 2011 )

Frasa raja damai memang identic dengan Yesus Kristus Sang Juru Selamat. Namun apakah hanya Yesus Kristus satu-satunya raja damai yang dikisahkan di Kitab Suci? Mari kita lihat bersama-sama.

1. Kejadian 14:17-24
Teks ini mengisahkan tentang pertemuan antara Abram dengan Melkisedek. Pada ayat 18, Melkisedek disebut sebagai raja Salem dan merupakan seorang Imam Allah yang Mahatinggi. Melkisedek memberkati Abram dilanjutkan oleh Abram memberikan persembahan sepersepuluh dari miliknya. Ini membuktikan bahwa Abram, bapa orang Yahudi yang dipilih Allah, sangat menjunjung tinggi Melkisedek.

2. Kejadian 49:8-10
Jika dibaca dari ayat 1, maka akan diketahui bahwa bacaan ini menceritakan mengenai Yakub memberikan ucapan berkat kepada anak-anaknya yang kemudian menjadi suku-suku baggsa di Israel. Ayat 8 hinggat 12 berkonsentrasi pada ucapan Yakub terhadap Yehuda. Ayat 10 berbunyi: “Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.” Klausa yang tercetak tebal tersebut jika kita telusuri kepada Kitab Suci Terjemahan Lama (KSTL) akan berbunyi “sehingga datanglah silo”.
Sepertinya klausa yang diterjemahkan oleh KSTL lebih tepat, karena Kitab Suci King James Version (KJV) berbunyi “until shiloh comes”. Kata shiloh tidak diterjemahkan ke dalah bahasa Inggris dan merupakan kata bahasa Ibrani (bahasa asli Perjanjian Lama). Arti yang paling tepat untuk menerjemahkan kata shiloh adalah tranquility (tranquility), the peaceable one (orang yang suka damai), ataupun the pacifier (pembawa damai).
Jadi penggalan berkat Yakub kepada Yehuda yang dicetak tebal di atas lebih cocok diterjemahkan sebagai “sampai si pembawa damai datang.” Ayat 10 ini menubuatkan bahwa Yehuda akan memperanakkan para raja sampai si Pembawa Damai datang. Terbukti bahwa dari raja Daud hingga Yesus yang kita anggap Raja Pembawa Damai adalah keturunan Yehuda.

3. Yesaya 9:5
Nabi Yesaya menubuatkan tentang kelahiran seorang Anak yang kemudian membawa lambang pemerintahan di atas bahu-Nya. Dan Dia diberi nama Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Dialah Yesus.



4. Ibrani 7:1-10
Hubungan antara Yesus dan Melkisedek dideskripsikan oleh bacaan ini. Salah satu penggalan teks pada awal bacaan yakni “…Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera.” Dari penggalan ini kemudian kita dapat menarik kesimpulan bahwa raja Salem yang dijelaskan pada nas nomo 1 di atas berarti raja damai sejahtera.
Hubungan antara Melkisedek dan Yesus adalah kesamaan akan keimaman mereka. Melkisedek adalah Imam Allah yang Mahatinggi, bahkan sebelum suku bangsa Lewi ditetapkan menjadi Imam. Artinya, keimaman Melkisedek tidak ditentukan oleh keturunan dan asal mula dia, tapi karena otoritas Allah saja. Begitu pula dengan Yesus. Walaupun dia adalah seorang Yehuda, Ia tetap ditetapkan sebagai Imam Allah Yang Mahatinggi.
Keimaman Melkisedek juga lebih tinggi dari keimaman Lewi, karena Abram, bapa orang Yahudi, sekalipun memberikan persembahan kepada Melkisedek dan membuktikan bahwa dia sangat menjunjung tinggi Melkisedek. Dalam hal ini, keimaman Yesus ditetapkan juga seperti keimaman Melkisedek, yakni jauh lebih tinggi dari keimaman Lewi.
Dari bacaan di atas sudah pasti Sang Raja Damai yang sejati adalah Yesus Kristus. Karena gelar Melkisedek sebagai raja damai hanya berlaku pada masanya saja. Sedangkan Yesus telah ditetapkan oleh para penubuat seperti nabi Yesaya di bacaan ke-2 dan ke-3 di atas. Tidak mungkin kedua bacaan ini menubuatkan tentang Melkisedek, karena eksistensi Melkisedek sendiri jauh sebelum para penubuat maupun pemazmur hidup.

Yesus, Raja Damai
Kata damai yang sering digunakan dalam Alkitab, dalam bahasa aslinya adalah shalom. Namun sebenarnya kata “damai” tidak dapat secara utuh kata “shalom”. Menurut Strong's Concordance 7965 Shalom juga mengandung arti completeness (kesempurnaan), wholeness (kelengkapan), health (kesehatan), peace (kedamaian), welfare (kesejahteraan), safety soundness (ketenangan pikiran), tranquility (kedamaian), prosperity (kemakmuran), perfectness (kesempurnaan), fullness (kepenuhan), rest (ketenangan), harmony (keselarasan), the absence of agitation or discord (ketiadaan pergolakan dan perselisihan). Berikut ini beberapa bacaan di Alkitab mengenai keberadaan Yesus sebagai Sang Raja Damai.

1. 2 Korintus 5:18, 19
“Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.”

2. Lukas 2:14
"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."

3. Matius 11:28-30
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.


Dari ketiga bacaan di atas (dan masih banyak bacaan lagi mengenai kedamaian yang dibawa oleh Yesus), kita dapat menarik kesimpilan bahwa damai yang dibawa Yesus ke dunia ini adalah:
    1. Damai antara Allah dan manusia
Dosa telah memisahkan Allah dan manusia. Tidak ada satupun manusia yang dapat bersatu dengan Allah karena keberadaan Allah Yang Mahakudus tidak dapat bersatu dengan setitikpun dosa. Yesus datang ke dunia dengan misi untuk mati di kayu salib menebus dosa umat manusia. Dia telah membayar habis hukuman yang seharusnya ditimpakan kepada manusia. Hal itu dilakukan agar keadaan manusia kembali menjadi kudus sehingga dapat bersatu kembali dengan Allah Yang Mahakudus.
   2. Damai antarsesama manusia
Dalam pelayanannya, Yesus sering kali berkata tentang kesamaan semua manusia di hadapan Allah. Manusia yang kaya, miskin, tinggi, rendah, terkemuka, bahkan terkebelakang tidak ada yang diistimewakan dan tidak ada yang dianaktirikan. Hanya manusia saja yang melihat perbedaan antarmereka sendiri dan sering kali menimbulkan masalah, konflik, bahkan peperangan. Ini jelas tidak sesuai dengan kehendak Yesus.
  3. Damai dalam hati manusia
Dosa mengakibatkan ketidaktenteraman dalam hati manusia. Pikiran manusia sering dipenuhi dengan kesibukan-kesibukan yang bersifat menekan mereka. Sebagian orang memang dapat bertahan dengan tekanan, namun apabila tekanan itu terjadi dalam skala masif, beberapa tekanan datang secara serentak, dan tekanan tersebut tidak henti-hentinya datang, maka sehebat apapun manusia tidak akan dapat menahan semua itu. Banyak yang melampiaskannya dengan cara yang ditawarkan dunia. Mabuk-mabukan, mengkonsumsi obat terlarang, dan lain sebagainya memang dapat menghilangkan kepenatan sementara, tetapi ketika efeknya hilang maka tekanan yang mereka rasakan dapat jauh lebih besar. Tidak sedikit pula yang mengambil jalan pintas dengan mengakhiri hidup mereka.
Yesus menawarkan kepada manusia ketenangan dan kedamaian yang sejati dalam diri manusia. Dengan datang kepadanya, manusia akan diberi ketenangan dan kelegaan sesuai yang dijanjikannya dalam Firman-Nya.

( Meland T.N. )

No comments:

Post a Comment